Rabu, 04 Mei 2016

Kriteria Seorang Worship Leader

Jarit Wansaga
Sekolah Tinggi Teologi Bethany Surabaya



Kriteria dan hal-hal apa saja yang harus diperhatikan seorang Worship Leader
 
Untuk menjadi seorang Worship Leader yang baik dan berkenan di hadapan Tuhan, maka diperlukan kecakapan khusus secara rohani maupun teknis, agar pelayanan pujian dan penyembahan dapat berlangsung sesuai rencana, sehingga jemaat diberkati secara rohani melalui pelayanan kita tersebut. Berikut ini akan diuraikan kriteria secara rohani dan teknis yang hendaknya dipenuhi oleh seorang Worship Leader.
 
Kriteria Rohani
1)       Lahir baru (II Kor. 5:17, Ef. 4:21-32) serta mengalami buah-buah pertobatan dalam dirinya (Gal. 5:22-23).
2)       Memiliki karakter Kristus (Fil. 2:1-5).
3)       Selalu semangat untuk melayani Tuhan (Rom. 12:11) dan hidup dalam pimpinan Roh Kudus (Ef. 5:18b).
4)       Hidup dalam doa dan penyembahan yang benar setiap hari (Yoh. 4:23, Ef. 5:19-20).
5)       Mengerti dan melakukan kebenaran firman Tuhan setiap hari (Mzm. 119:105, Mat. 13:23, II Tim. 3:14-17).
6)       Berusaha untuk senantiasa hidup dalam kekudusan (Ibr. 12:14, Mzm. 15:1-3, 24:4-5, I Ptr. 1:16).
Kriteria Teknis
1)       Memiliki talenta vokal yang cukup baik serta selalu membiasakan diri agar tidak menyanyi dengan suara yang sumbang (fals voice).
2)       Mengerti pengetahuan dasar tentang musik (nada dasar dan kode/simbol instruksi lagu sebagai sarana komunikasi antara WL dengan pemain musik pada saat performance).
3)       Mampu memimpin pujian dan penyembahan dengan baik (tumbuhkan rasa percaya diri/ berusaha untuk meminimalisasi rasa gugup/grogi pada saat akan melayani; disinilah salah satu alasan pentingnya doa sebelum melayani, agar Roh Kudus memampukan kita untuk memimpin dengan tegas dan penuh percaya diri).
4)       Mampu berkomunikasi dengan baik melalui penggunaan kata-kata yang positif untuk menguatkan iman dan membangun kehidupan rohani jemaat yang sedang dilayani.
5)       Mencari dan mengembangkan perbendaharaan lagu pujian (belajar untuk menghafal lirik atau kata-kata dalam syair lagu, baik lagu pujian dan penyembahan versi lama maupun baru).
 
Hal-Hal Praktis Yang Harus Diperhatikan Saat Menjadi Worship Leader
Menjadi seorang Worship Leader sebenarnya tidak terlalu sulit, asalkan kita mempelajari dan memahami dengan benar hal-hal penting yang berkaitan dengan pelayanan ini, agar tugas pelayanan tersebut dapat berlangsung sesuai rencana. Berikut ini adalah hal-hal praktis yang dapat dijadikan acuan untuk mengawali dan menjalankan tugas sebagai seorang Worship Leader dalam sebuah ibadah:
1.    Cobalah untuk membangun komunikasi yang erat dan hangat dengan jemaat yang kita layani pada kesempatan pertama dengan penuh kasih dan tidak terkesan “dibuat-buat”, baik melalui kata-kata pembuka yang mengakrabkan atau yang menguatkan rohani jemaat, serta jangan lupa berikan pandangan mata dan senyuman yang manis agar tidak terkesan bahwa pujian dan penyembahan sedang dalam suasana yang tegang. Ciptakan suasana pujian dan penyembahan yang nyaman serta menyenangkan, sehingga jemaat dapat menikmati hadirat Tuhan dengan baik.
2.    Hindari menggunakan kata-kata atau instruksi yang melemahkan dan menghakimi jemaat, misalnya menghakimi atau menegur jemaat yang terlambat datang ibadah pada saat WL sedang memimpin pujian dan penyembahan, atau menghakimi jemaat mengenai cara mereka ketika memuji Tuhan. Jangan paksakan jemaat untuk “menjadi sama” seperti kita, tugas kita hanyalah mengajak dan mengarahkan jemaat untuk tetap fokus dan menikmati suasana pujian dan penyembahan. Gunakan selalu kata-kata iman untuk memotivasi jemaat dan mendorong mereka untuk semangat dalam memuji Tuhan.  Berikut ini adalah beberapa contoh kata-kata positif yang dapat digunakan untuk memotivasi jemaat:
“Shaloom.. Saya percaya Allah hadir di sini dan siap memberkati Saudara..!” (dengan memberikan senyum seraya mengangkat salah satu tangan sebagai ekspresi memberkati).
“Bapak, ibu, dan saudara sekalian percaya bahwa ada kuasa dalam pujian dan penyembahan saat ini..?” (dengan memberikan senyum, sambil mengangkat bahu, seraya mengangkat salah satu tangan menunjukkan ekspresi bertanya kepada jemaat).
“Saudara yang datang dengan masalah pasti akan pulang dengan membawa pemulihan dan pertolongan dari Tuhan..” (sambil tersenyum dan menunjukkan ekspresi bahwa selalu ada pengharapan di dalam Tuhan kepada jemaat sembari mengangkat tangan kanan setinggi kepala dengan posisi menengadah lalu mengarahkan jari telunjuk ke arah atas).
3.    Mempersiapkan penampilan yang terbaik untuk Tuhan dan jemaat dengan cara berpakaian yang rapi dan sopan, rambut disisir dengan rapi dan menarik, serta tunjukkan ekspresi wajah yang segar, cerah, dan bersih.
4.    Hindari pertentangan atau kesalahpahaman (miss understanding) dengan singers dan tim musik agar tidak menimbulkan suasana tegang dan perasaan seolah tidak ada damai sejahtera selama ibadah berlangsung.
5.    Berikan instruksi atau komentar lagu dengan jelas disertai senyuman manis, baik instruksi kepada tim musik (berkaitan dengan kode lagu) maupun kepada jemaat.
6.    Jika pada saat pujian dan penyembahan berlangsung terjadi kesalahan atau gangguan secara teknis, maka usahakan pujian dan penyembahan tersebut tetap berlangsung dengan tertib dan jangan panik. Berusahalah untuk tetap tenang serta arahkan jemaat untuk tetap fokus memuji dan menyembah Tuhan. Ingatlah bahwa kita sedang memuji dan menyembah Tuhan, maka jangan mudah terpengaruh oleh situasi dan kondisi yang berusaha untuk mengganggu jalannya pujian dan penyembahan. Percayalah bahwa Roh Kudus yang akan menolong kita untuk mengatasi gangguan tersebut.
7.    Hindarilah pengulangan lagu yang terlalu sering agar jemaat tidak bosan atau jenuh, sehingga jemaat merasa enggan dan menjadi turun semangatnya untuk memuji Tuhan.
8.    Berusahalah peka terhadap kehendak Roh Kudus untuk suatu perubahan berkaitan dengan sikap dan berbagai ekspresi atau bersikap fleksibel ketika sedang memimpin pujian dan penyembahan agar tercipta suasana ibadah yang hidup, penuh sukacita, semangat, dan harmonis serta jemaat dapat merasakan jamahan kuasa Roh Kudus secara pribadi atas hidup mereka. Hal ini dapat terjadi ketika Worship Leader memiliki kualitas doa dan hubungan pribadi yang intim dengan Tuhan (have an intimacy relationship with God).
9.    Hindari kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik seperti terlalu sering menutup mata, gerakan tangan yang kurang baik (misalnya tangan diletakkan di saku, tangan diletakkan di belakang punggung, atau tangan menggaruk-garuk kepala), membelakangi jemaat, dan gerak refleks mata yang sering berkedip-kedip.
10. Berikan komentar terhadap lagu seperlunya saja, sesuaikan dengan lirik lagu serta suasana pujian dan penyembahan pada saat itu.
11. Jangan biarkan suasana menjadi vakum (kosong tanpa ekspresi) karena WL seolah kehabisan kata-kata atau sedang berusaha untuk meminimalisasi perasaan gugup atau grogi yang terlalu lama.
12. Buatlah kesepakatan dengan tim musik dan singers mengenai instruksi atau kode tangan (hand signal) berkaitan dengan pemilihan nada dasar, pengulangan lagu (intro, middle, atau ending) menaikkan nada (overtone), memperlambat atau mempercepat tempo lagu, tinggi rendahnya volume suara, memberikan coda atau bridge (variasi tertentu dalam gaya bermusik), menunjuk hanya satu alat musik saja yang bunyi (drum only, keyboard only, guitar only, saxsophone only).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar