Jarit Wansaga
Sekolah Tinggi Teologi Bethany Surabaya
Kriteria dan hal-hal apa saja yang harus diperhatikan seorang Worship
Leader
Untuk menjadi seorang Worship Leader yang baik dan berkenan di hadapan Tuhan, maka
diperlukan kecakapan khusus secara rohani maupun teknis, agar pelayanan pujian
dan penyembahan dapat berlangsung sesuai rencana, sehingga jemaat diberkati
secara rohani melalui pelayanan kita tersebut. Berikut ini akan diuraikan
kriteria secara rohani dan teknis yang hendaknya dipenuhi oleh seorang Worship Leader.
Kriteria Rohani
1)
Lahir baru (II Kor. 5:17, Ef.
4:21-32) serta mengalami buah-buah pertobatan dalam dirinya (Gal. 5:22-23).
2)
Memiliki karakter Kristus
(Fil. 2:1-5).
3)
Selalu semangat untuk melayani
Tuhan (Rom. 12:11) dan hidup dalam pimpinan Roh Kudus (Ef. 5:18b).
4)
Hidup dalam doa dan
penyembahan yang benar setiap hari (Yoh. 4:23, Ef. 5:19-20).
5)
Mengerti dan melakukan kebenaran firman Tuhan setiap
hari (Mzm. 119:105, Mat. 13:23, II Tim. 3:14-17).
6)
Berusaha untuk senantiasa hidup dalam kekudusan (Ibr.
12:14, Mzm. 15:1-3, 24:4-5, I Ptr. 1:16).
Kriteria Teknis
1)
Memiliki talenta vokal
yang cukup baik serta selalu membiasakan diri agar tidak menyanyi dengan suara
yang sumbang (fals voice).
2)
Mengerti pengetahuan dasar
tentang musik (nada dasar dan kode/simbol instruksi lagu sebagai sarana
komunikasi antara WL dengan pemain
musik pada saat performance).
3)
Mampu memimpin pujian dan
penyembahan dengan baik (tumbuhkan rasa percaya diri/ berusaha untuk
meminimalisasi rasa gugup/grogi pada saat akan melayani; disinilah salah satu
alasan pentingnya doa sebelum melayani, agar Roh Kudus memampukan kita untuk
memimpin dengan tegas dan penuh percaya diri).
4)
Mampu berkomunikasi dengan
baik melalui penggunaan kata-kata yang positif untuk menguatkan iman dan
membangun kehidupan rohani jemaat yang sedang dilayani.
5)
Mencari dan mengembangkan
perbendaharaan lagu pujian (belajar untuk menghafal lirik atau kata-kata dalam
syair lagu, baik lagu pujian dan penyembahan versi lama maupun baru).
Hal-Hal Praktis Yang Harus
Diperhatikan Saat Menjadi Worship Leader
Menjadi seorang Worship
Leader sebenarnya tidak terlalu sulit, asalkan kita mempelajari dan
memahami dengan benar hal-hal penting yang berkaitan dengan pelayanan ini, agar
tugas pelayanan tersebut dapat berlangsung sesuai rencana. Berikut ini adalah
hal-hal praktis yang dapat dijadikan acuan untuk mengawali dan menjalankan
tugas sebagai seorang Worship Leader dalam
sebuah ibadah:
1.
Cobalah untuk membangun komunikasi yang erat dan hangat
dengan jemaat yang kita layani pada kesempatan pertama dengan penuh kasih dan
tidak terkesan “dibuat-buat”, baik melalui
kata-kata pembuka yang mengakrabkan atau yang menguatkan rohani jemaat, serta
jangan lupa berikan pandangan mata dan senyuman yang manis agar tidak terkesan
bahwa pujian dan penyembahan sedang dalam suasana yang tegang. Ciptakan suasana
pujian dan penyembahan yang nyaman serta menyenangkan, sehingga jemaat dapat
menikmati hadirat Tuhan dengan baik.
2.
Hindari menggunakan kata-kata atau instruksi yang
melemahkan dan menghakimi jemaat, misalnya menghakimi atau menegur jemaat yang
terlambat datang ibadah pada saat WL sedang
memimpin pujian dan penyembahan, atau menghakimi jemaat mengenai cara mereka
ketika memuji Tuhan. Jangan paksakan jemaat untuk “menjadi sama” seperti kita, tugas kita hanyalah mengajak dan
mengarahkan jemaat untuk tetap fokus dan menikmati suasana pujian dan
penyembahan. Gunakan selalu kata-kata iman untuk memotivasi jemaat dan
mendorong mereka untuk semangat dalam memuji Tuhan. Berikut ini adalah beberapa contoh kata-kata
positif yang dapat digunakan untuk memotivasi jemaat:
“Shaloom.. Saya percaya Allah hadir di sini dan siap
memberkati Saudara..!” (dengan
memberikan senyum seraya mengangkat salah satu tangan sebagai ekspresi
memberkati).
“Bapak, ibu, dan saudara sekalian percaya bahwa ada
kuasa dalam pujian dan penyembahan saat ini..?” (dengan memberikan senyum,
sambil mengangkat bahu, seraya mengangkat salah satu tangan menunjukkan
ekspresi bertanya kepada jemaat).
“Saudara yang datang dengan masalah pasti akan pulang
dengan membawa pemulihan dan pertolongan dari Tuhan..” (sambil tersenyum dan
menunjukkan ekspresi bahwa selalu ada pengharapan di dalam Tuhan kepada jemaat
sembari mengangkat tangan kanan setinggi kepala dengan posisi menengadah lalu
mengarahkan jari telunjuk ke arah atas).
3.
Mempersiapkan penampilan yang terbaik untuk Tuhan dan
jemaat dengan cara berpakaian yang rapi dan sopan, rambut disisir dengan rapi
dan menarik, serta tunjukkan ekspresi wajah yang segar, cerah, dan bersih.
4.
Hindari pertentangan atau kesalahpahaman (miss understanding) dengan singers dan tim musik agar tidak
menimbulkan suasana tegang dan perasaan seolah tidak ada damai sejahtera selama
ibadah berlangsung.
5.
Berikan instruksi atau komentar lagu dengan jelas
disertai senyuman manis, baik instruksi kepada tim musik (berkaitan dengan kode
lagu) maupun kepada jemaat.
6.
Jika pada saat pujian dan penyembahan berlangsung
terjadi kesalahan atau gangguan secara teknis, maka usahakan pujian dan
penyembahan tersebut tetap berlangsung dengan tertib dan jangan panik.
Berusahalah untuk tetap tenang serta arahkan jemaat untuk tetap fokus memuji
dan menyembah Tuhan. Ingatlah bahwa kita sedang memuji dan menyembah Tuhan,
maka jangan mudah terpengaruh oleh situasi dan kondisi yang berusaha untuk
mengganggu jalannya pujian dan penyembahan. Percayalah bahwa Roh Kudus yang
akan menolong kita untuk mengatasi gangguan tersebut.
7.
Hindarilah pengulangan lagu yang terlalu sering agar
jemaat tidak bosan atau jenuh, sehingga jemaat merasa enggan dan menjadi turun
semangatnya untuk memuji Tuhan.
8.
Berusahalah peka terhadap
kehendak Roh Kudus untuk suatu perubahan berkaitan dengan sikap dan berbagai
ekspresi atau bersikap fleksibel ketika sedang memimpin pujian dan penyembahan
agar tercipta suasana ibadah yang hidup, penuh sukacita, semangat, dan harmonis
serta jemaat dapat merasakan jamahan kuasa Roh Kudus secara pribadi atas hidup
mereka. Hal ini dapat terjadi ketika Worship
Leader memiliki kualitas doa dan hubungan pribadi yang intim dengan Tuhan (have an intimacy relationship with God).
9. Hindari kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik seperti terlalu
sering menutup mata, gerakan tangan yang kurang baik (misalnya tangan
diletakkan di saku, tangan diletakkan di belakang punggung, atau tangan
menggaruk-garuk kepala), membelakangi jemaat, dan
gerak refleks mata yang sering berkedip-kedip.
10. Berikan
komentar terhadap lagu seperlunya saja, sesuaikan dengan lirik lagu serta
suasana pujian dan penyembahan pada saat itu.
11. Jangan
biarkan suasana menjadi vakum (kosong
tanpa ekspresi) karena WL seolah
kehabisan kata-kata atau sedang berusaha untuk meminimalisasi perasaan gugup
atau grogi yang terlalu lama.
12. Buatlah
kesepakatan dengan tim musik dan singers mengenai
instruksi atau kode tangan (hand signal)
berkaitan dengan pemilihan nada dasar, pengulangan lagu (intro, middle, atau ending) menaikkan nada (overtone), memperlambat atau mempercepat
tempo lagu, tinggi rendahnya volume suara, memberikan coda atau bridge (variasi
tertentu dalam gaya bermusik), menunjuk hanya satu alat musik saja yang bunyi (drum only, keyboard only, guitar only,
saxsophone only).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar